RSS

[Berbagi cerita] Jerit Hidup Pemulung Kecil

24 Dec

Hooaaahm… Nyenyak sekali tidurkui. Tak terasa sinar mentari pagi menyinari wajahku yang tak seberapa ganteng ini. Ku terbangun dari tempat tidur yang terbuat dari beberapa kertas koran dan kardus usang yang telah kukumpulkan. Kupandang sekitar tempat tidurku banyak sampah yang berserakan dimana mana, banyak pula kawan kawanku yang masih terlelap di atasnya dengan alas seadanya. Sedikit terbesit dalam benak hayalku

Kapan diriku dan kawan kawanku bisa menikmati hidup sederhana tanpa terusik dengan himpitan masalah ekonomi, penggusuran, dan lain sebagainya? . Ah.. Buat apa ku sesali jalan takdir hidupku ini, aku harus berjuang untuk penuhi kebutuhan duniawiku, Kasihan perutku nanti.

Kucari tongkat usang pengganti kaki kiriku yang telah lama tiada karena kecelakaan beberapa tahun lalu. Dimana engkau tongkatku? aku membutuhkan mu untuk menyambung hidupku hari ini. Tak lama kemudian ku temukan tongkatku, ku segera bergegas menyeret tubuh kecil yang tak terurus ini ke samping tongkat itu. Dengan sigap kuambil tongkatku dan dengan segera berdiri dari tempatku bersimpuh. Kuambil semua peralatanku untuk memulung barang barang bekas. Setelah itu kurapikan gerobak kecil milikku supaya nanti muat untuk barang barang yang ku ambil dari berbagai tempat.

Haaap,,, Mulai kudorong gerobak kecilku dengan tangan kananku karena tangan kiriku harus menyanggah tongkat. Ku mulai menggerakkan tongkat penyangga dan gerobak kecilku tuk mencari barang yang bisa ditukarkan dengan uang yang nantinya berfungsi untuk menyambung hidupku hari ini. Perlahan demi perlahan ku meninggalkan tempatku tidur tadi. Berjalan dengan tongkat penyangga ditambah harus mendorong gerobak kecil yang beratnya cukup membuat ku kelelahan takkan pernah menyurutkan semangatku untuk berjuang mencari sesuap nasi untuk menyambung hidupku hari ini. Tak terasa, sudah jauh kutinggalkan tempat pembuangan sampah yang menjadi tempat istirahatku.

Sedikit demi sedikit ku mengumpulkan kaleng, kertas, karton dan berbagai barang yang bisa ditukarkan di pengepul barang. Berjalan dengan tongkat penyangga plus harus mendorong gerobak kecilku takkan pernah membuat semangatku untuk mencari sesuap nasi hari ini semakin pudar, bahkan aku makin bersemangat untuk melangkah. Tak terasa sinar matahari telah menyinari tepat di atas kepala dan tubuhku. Mungkin bagi orang yang hidupnya serba berkecukupan, sinar matahari ini begitu panas sehingga mereka selalu mencari tempat untuk menghindari sinar matahari itu. Namun bagiku, sinar matahari ini terasa begitu hangat menyelimuti langkah demi langkahku mencari seseuap nasi hari ini. Ku berhenti di pinggir jalan yang ramai akan kendaraan kendaraan mewah. Mengistirahatkan lengan kiri ku yang semenjak pagi tadi harus menyangga tongkat dan tangan kananku yang harus mendorong gerobak kecil melewati medan jalan yang tak mudah bagi seorang pemulung kecil ini.

Ku terduduk di trotoar pinggir jalan untuk mengistirahatkan tubuh kecilku ini. Kuambil botol berisi air keran yang telah kusiapkan di sisi pinggir gerobak kecilku. Ku teguk sedikit air yang ada untuk melepas dahaga yang menyerang tenggorokanku. “Aaah,,, begitu leganya menikmati air keran ini”, begitu pikirku.Kini pandanganku tertuju pada sebuah cafe pinggir jalan yang sangat mewah. Disana banyak orang yang duduk dengan santainya menikmati berbagai makanan dan minuman yang sangat lezat. Beberapa saat setelah melihat pemandangan yang sangat mewah itu ku berpikir kembali dalam benak ku.

“Betapa nikmatnya hidup mereka disana, dengan santainya menikmati hidup ini,”.

“Menikmati semua kenikmatan duniawi dengan semua harta kekayaan yang mereka miliki,”

“Hei, Orang orang berada, dimana belas kasih mu untuk kami yang hidup serba kekurangan”

“Yang bahkan untuk sesuap nasipun harus menempuh belasan bahkan puluhan kilometer untuk memuaskan hasrat perut kami,”

“huuuuuft,,, buat apa ku memikirkan mereka yang belum tentu memikirkan keberadaanku ini, percuma,,,percumaaa,,,” ego dalam diriku sedikit meluap. “Mending ku melanjutkan langkah kecilku dan mendorong gerobakku untuk mencari sesuap nasi”. Dengan sedikit terbawa emosi ku ambil tongkatku yang tergeletak dengan indahnya di trotoar dan dengan segera kulanjutkan perjalananku mencari penyambung kehidupanku hari ini.

Tak terasa oleh tubuhku, hari telah menjelang sore yang menandakan aku harus kembali ke tempat istirahatku di sekitar tempat pembuangan sampah. Kulihat gerobak kecilku sudah cukup terisi dengan barang barang yang nantinya bisa ditukarkan ke para pengepul barang. Langkah demi langkah kutelusuri jalan yang telah kulewati tadi menuju para tengkulak yang sudah bersiap diri menerima semua barang dari para pemulung yang telah seharian mencari barang apapun yang bisa ditukarkan menjadi uang. Tepat beberapa saat setelah matahari bersembunyi dari terang nya bulan yang mencari sang matahari, ku tiba dan menapakkan kaki di tempat yang menjadi titik awal langkahku hari ini. Yaa,, tempat itu adalah Tempat Pembuangan Sampah. Dengan segera ku bertemu dengan para pengepul yang sedang menerima barang barang dari para pemulung lain dan ku tukarkan semua barang yang ada dalam gerobakku dengan empat lembar lima ribuan.

Tanganku bergetar saat menerima uang itu, tak terasa jerih payahku hari ini telah terbayarkan dengan empat lembar uang itu. Setelah itu, dengan segera ku mencari warung nasi langgananku dan membeli sebungkus nasi campur dan segelas teh hangat. Dengan lahap ku memakan nasi campur dan meminum segelas teh hangat untuk memuaskan keinginan perutku yang sudah dari tadi keroncongan menahan lapar. Sesaat setelah ku selesai makan, aku berdoa untuk tuhan yang jauh diatas sana

” Ya ALLAH, Terima kasih ku ucapkan untukmu”

” Hari ini kutelah berjalan jauh dengan tongkat dan gerobakku untuk mencari sesuap nasi”

” Pemberianmu telah kuterima dari para perantaramu (para pengepul barang) ”

” Ya ALLAH, Berikanlah aku kekuatan untuk melewati hari ini dengan beberapa suap nasi campur dan segelas air teh hangat yang telah kuhabiskan ini”

” Ku memohon kepadamu ya ALLAH yang maha pengasih dan penyayang, jangan kau putus semua rezeki mu untuk ku dan semua teman pemulungku agar kami masih bisa bertahan hari ini dan memulai kembali mencari sesuap nasi esok hari”

” Sekali lagi ku berterima kasih padamu ya ALLAH, telah memberiku kekuatan dan kenikmatan untuk hari ini”

” Amin”

Sedikit cerita dariku untuk semua sahabatku.

Semoga kita selalu mensyukuri semua nikmat yang diberi oleh Tuhan yang Maha Kuasa.

Mohon maaf jika cerita ini kurang menarik untuk kalian.

Terima kasih.

Salam hangat dari untuk mu

Repost from my note inf my Facebook : https://www.facebook.com/note.php?note_id=404799800682

 
Leave a comment

Posted by on 24 December 2011 in Tulisan bebas

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: